Pemadaman listrik jakarta

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ahli tegangan tinggi Institut Teknologi Bandung Djoko Derwanto menilai terbakarnya trafo Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Cawang bukan karena beban yang melebihi kapasitas. “Trafo dibebani 110 persen juga tidak apa-apa,” ujarnya ketika dihubungi Kamis ini (5/11).

Menurutnya, trafo terbakar karena kesalahan pemasangan. “Waktu pemasangan terjadi gesekan yang menimbulkan partikel polutan,” kata Djoko.

Partikel polutan itulah yang memicu terjadinya kebakaran. Hal tersebut berbeda dengan hasil Tim Investigasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menilai penyebab terbakarnya trafo Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi Cawang. Tim itu menyimpulkan kebakaran terjadi karena pembebanan yang mencapai 90 persen dari kapasitasnya dalam waktu lama secara terus-menerus sepanjang hari.

Pembebanan itu menyebabkan temperatur trafo yang tinggi dan memicu dielectric loses dan thermal instabilty yang akhirnya mengakibatkan ledakan. “Pemanasan itu memuaikan seal (pengaman) yang menyebabkan minyak trafo merembes ke atas dan bercampur dengan gas sehingga terjadi ledakan pada bushing (terminal) trafo,” ujar Ahli Peneliti Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hamzah Hilal dalam konferensi persnya di Jakarta.

Untuk mengantisipasi kejadian yang sama, ia merekomendasikan agar dilakukan audit teknologi pada empat gardu induk lain di Jakarta, yaitu Gandul, Kembangan, Bekasi, dan Depok. Khusus gardu Cawang diperlukan satu unit trafo tambahan berkapasitas 500 mega volt ampere yang fungsinya untuk menurunkan pembebanan trafo. “Sehinga masing-masing trafo akan memikul maksimum 60 persen beban, tidak seperti sekarang yang mencapai 94 persen dari kapasitas 984 megawatt,” katanya.

Sejak 2007 pembebanan di gardu induk yang memasok Jakarta dalam kondisi kritis atau di atas 90 persen. General Manager PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali Nur Pamudji mengatakan pihaknya sedang mengupayakan tambahan trafo di gardu induk yang memasok listrik ke Jakarta. “Pembebanan trafo memang seharusnya 60 persen saja, supaya kalau ada trafo yang failed (rusak) bisa dialihkan ke trafo lain,” kata Pamudji.

PLN mengaku tidak bisa menambah trafo karena mengalami keterbatasan pendanaan. Padahal, pertumbuhan beban di Jakarta cukup tinggi, rata-rata lima persen per tahun. Kebutuhan untuk memperkuat struktur jaringan di Jakarta membutuhkan dana Rp 5,6 triliun. Sebesar Rp 800 miliar dari anggaran itu berasal dari PLN, Rp 3 triliun dari kredit ekspor dan sisanya masih dicari.

Selain menambah trafo di gardu induk, PLN juga melakukan looping pada jaringan 150 kilo volt dan menambah kapasitas jaringan 150 kilo volt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: